Thursday, January 26, 2012

Bye :)

Saya baru sadar sesuatu : apapun yang saya lakukan untukmu itu useless.

Saya menangis, tertawa, menangis, tertawa kemudian menangis lagi, alasannya hanya karena kamu.

Tapi mulai hari ini, saya akan cari alasan lain :)

Mungkin kamu tidak bisa melihat apapun dalam persepsi saya, mungkin kamu bahkan tidak percaya.

Kamu pernah bilang tentang mimpimu, tapi mungkin kamu lupa. Walaupun aku selalu ingat detil kecil yang pernah kamu lakukan atau ucapkan.

Tapi saya tidak pernah menemukan diri saya sendiri di matamu, dan itulah yang membuat saya bangun dari mimpi.

Tapi terimakasih ya :)

Terimakasih selama enam bulan ini.




Now Playing : Maliq & D'Essentials - Sampai Kapan


Menantikanmu dalam jiwaku
Sabarku menunggu berharap sendiri
Aku mencoba merindukan bayangmu
Karena hanya bayanganmu yang ada
Hangat mentari dan terangnya rembulan
Mengiringi hari-hariku yang tetap tanpa kehadiranmu
Indahnya pelangi yang terbit kala sinar matamu menembus relung hatiku


Pantaskah diriku ini mengharapkan
Sesuatu yang lebih dari hanya sekedar perhatian dari dirimu
yang kau anggap biasa saja
Atau mestikah ku simpan dalam diri
Lalu ku endapkan rasa ini terus
Selama-lamanya


Diriku cinta dirimu dan hanya itu lah Satu
Yang aku tak jujur kepadamu
Kuingin engkau mengerti
Mungkinkah engkau sadari
Cinta yang ada di hatiku
Tanpa sepatah kata kuucapkan padamu
Sayang dapatkah aku memanggilmu 'sayang'

Sampai kapan
Akupun tak sanggup tuk pastikan
Kudapat memendam seluruh rasa ini

Dengarlah…jeritan hatiku untukmu 
Dan aku ingin engkau mengerti apa yang
dihatiku. Sanubariku
Kita kan berdua selamanya



Ketika lagu ini selesai, buku cerita ini juga akan selesai :)

Friday, January 6, 2012

Unexpected Things


  Ternyata Tuhan tidak pilih kasih. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki tanpa pandang waktu, jenis kelamin, atau jabatan. Apapun.
  Tahun 2011 ini menurut saya begitu pahit. Begitu banyak hal-hal yang mengejutkan yang tidak saya harapkan, tapi lolos begitu saja.
  Pertama, ayah saya sakit. Karena kebaikan Tuhan, karena doa-doa, dan karena semangat beliau, Alhamdulillah beliau bisa sembuh.
  Kedua, saya patah hati.
  Ketiga, telepon itu. Telepon dari ibu saya. Beliau hanya berbicara sebentar. empat puluh detik, mungkin. Tapi tangisan saya hampir tidak bisa berhenti. Tuhan memanggil kakak dari ayah saya. Saya menyebutnya 'Pakde'.
  Sama seperti ayah saya, beliau begitu pendiam. Beliau hanya tertawa ketika melihat keluarganya bahagia.
  Saya kira, beliau akan tetap hidup, hingga beliau punya cucu. Hingga beliau bisa melihat anak keduanya menikah dengan perempuan pilihannya.
  Saya kira beliau akan bertahan menanggulangi segala penyakit yang hinggap di tubuhnya sama seperti dahulu. Tapi mungkin dia sudah rindu pada Tuhan, hingga akhirnya dia merelakan segalanya yang terjadi di dunia, agar kembali kepada-Nya.