Monday, November 29, 2010

About Sapardi Djoko Damono's Poem

Bagi yang ngga tau, saya suka puisinya Pak Sapardi Djoko Damono :D bahasanya sederhana tapi indah dan deep sekali hehe. Udah deeeh ngga usah banyak cingcong, cekidooot :

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu




Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
 
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu


Sebenernya masih banyak bangeeet, Tapi karena yang diatas adalah tiga teratas favoritku, yang lain kapan-kapan yaah hehe

Friday, November 26, 2010

My Short Poem

Dalam mimpiku bertahun lalu
Lintang hadir di dalamnya dan merengkuh semuanya
Lalu saat semuanya indah dan tampak nyata
Bayangnya berpendar, pudar, membumbung tinggi dan menghilang
Padahal masih terlalu pagi, terlalu dini ketika dia menghilang
Bahkan aku belum sempat menyampaikan semua yang ingin aku ucapkan

Sunday, November 21, 2010

Apakah Saya Normal?

Baru-baru ini bawaannya pusing mulu. Kenapa? Karena rumah saya sekarang jadi berantakan banget. Oke. Pake banget. Jadi ceritanya dua orang nenek dan satu orang kakek saya mengungsi disini karena peristiwa merapi itu. Lalu yang ke dua, kamar saya penuh dengan kertas. Saya ga ngerti deh kenapa bisa ada kertas bejibun gitu. Saya bahkan menyimpulkan kertas itu mendatangi saya sendiri.
Saya merasa kurang sekali istirahat. Hari Minggu tuh berasa cepeeeeeeet banget malah ga ada kerjaan. Padahal hari Senin tuh beneran nyebelin. Ada pelajaran tambahan sampai jam dua seperempat dan jam tiga saya harus les neutron. Bisa kebayang bagaimana capeknya? Yeah saya berdoa aja semoga pengorbanan ini ga sia-sia. Amin.
Kalau dihitung-hitung, les itu mengorupsi waktu saya. Saya bahkan lupa berapa kali dalam seminggu saya harus les. Saya bahkan sampai lupa hari. Saya bahkan saking seriusnya belajar matematika, sampai lupa pakai baju pramuka di hari Kamis padahal harusnya pakai baju pramuka itu di hari Jumat *dodol banget*
Dan yang membuat saya sadar sepertinya saya jadi study holic adalah peristiwa di hari Sabtu. Saya memutuskan untuk beli buku berjudul Rahim karangan Fahd Djibran. Btw, saya usulin deh baca buku ini karena isinya ya allaaaaaaah ngeharuin bangeeet! Hiks. Ngga bakal nyesel baca buku ini deh. Iya, jadi tuh buku tuh sebenernya buat refresh semua sampah di dalam otak saya. Jadi hari Jumatnya saya baca. Dan karena saya sudah lemas lunglai dan lesu, saya memutuskan untuk melanjutkannya di hari Sabtu. Nah, waktu hari Sabtu, saya menamatkan buku ini. Saya sudah sedia tisu sebelumnya untuk menghapus air mata saya yang mengalir *wess* tapi setelahnya saya bingung : habis ini mau ngapain ya?
Saya celingak-celinguk kesana sini mencari mangsa, dan menemukan mama. Tapi ternyata beliau sedang mengobrol dengan seorang tamu *seorang dokter, anak dari teman mama yang membuat saya sedikit senyum-senyum karena beliau memakai baju bermotif kotak-kotak, sama seperti motif tempat kacamata mama*. Yowes, karena ga ada kerjaan, tebak saya ngapain? Saya membuka tas, mengeluarkan kertas dan pensil, lalu mengerjakan matematika.
TIDAAAK BETAPA MENYEDIHKANNYA DIRIMU, NAK. Huhuhu parah banget malam minggu malah ngerjain matematika -.- apakah saya normal?
Yeah everybodeeeeh karena sekarang saya sudah mulai ga normal. Saya akhiri saja perjumpaan kita. Oke oke? Byeeeeeeee

Monday, November 15, 2010

Buku Cerita

Hari ini entah kenapa saya teringat kamu dan nomormu. Dan saya ingat tasmu, warna biru. Kita pernah mengisi buku cerita bersama. Saya dulu yang memulainya. Buku cerita ini sedikit emosional, gombal, khas anak kecil kemarin sore. Karena saya suka warna pink, saya putuskan sampulnya warna pink. Lagipula, saya belum pernah tanya sama kamu, ingin berwarna apa buku ini. Saya belum sempat tanya warna favoritmu.
Oh iya, kamu mengajari saya banyaaaak sekali hal. Karena, tentu saja, kamu lebih gaul daripada saya. Tapi kamu juga mengajarkan saya sesuatu yang sedikit, ah saya tidak tahu seberapa penting hal itu. Saya bahkan terlalu malu untuk meng-explain apa 'itu' yang saya maksud. Saya terlalu percaya diri kalau saya sudah pernah merasakannya. 'Itu' yang saya maksud, oke, dalam bahasa koreanya, Sarang. Tahu apa itu sarang?
Kenapa saya dengan mudahnya, dengan percaya dirinya, mendiagnosa kalau saya sudah pernah merasakannya? Karena saya merasakan itu tanpa alasan. For no reason. Itu kata go*gle.
Saya hanya ingin bilang, halaman-halaman buku ini masih kosong. Kosong karena sepertinya masih kamu yang harus menulisnya, walaupun saya terlalu takut memintanya. Kalau bisa, saya ingin membakar buku ini, menghilangkan buku ini, seperti saya menghilangkan mimpi-mimpi yang saya gantungkan ke kamu, tetapi semuanya gagal.
Really, walaupun dua tahun sudah berlalu, buku ini masih kosong. Saya belum pernah bisa mengizinkan orang lain mengisinya.
Really, sekarang saya sedang bertanya-tanya. Kenapa saya begitu berani, kenapa saya begitu tidak tahu malu menuliskan begini di dunia tidak nyata ini, kenapa saya harus repot-repot menuliskan pengarang dari buku cerita ini.