Monday, November 15, 2010

Buku Cerita

Hari ini entah kenapa saya teringat kamu dan nomormu. Dan saya ingat tasmu, warna biru. Kita pernah mengisi buku cerita bersama. Saya dulu yang memulainya. Buku cerita ini sedikit emosional, gombal, khas anak kecil kemarin sore. Karena saya suka warna pink, saya putuskan sampulnya warna pink. Lagipula, saya belum pernah tanya sama kamu, ingin berwarna apa buku ini. Saya belum sempat tanya warna favoritmu.
Oh iya, kamu mengajari saya banyaaaak sekali hal. Karena, tentu saja, kamu lebih gaul daripada saya. Tapi kamu juga mengajarkan saya sesuatu yang sedikit, ah saya tidak tahu seberapa penting hal itu. Saya bahkan terlalu malu untuk meng-explain apa 'itu' yang saya maksud. Saya terlalu percaya diri kalau saya sudah pernah merasakannya. 'Itu' yang saya maksud, oke, dalam bahasa koreanya, Sarang. Tahu apa itu sarang?
Kenapa saya dengan mudahnya, dengan percaya dirinya, mendiagnosa kalau saya sudah pernah merasakannya? Karena saya merasakan itu tanpa alasan. For no reason. Itu kata go*gle.
Saya hanya ingin bilang, halaman-halaman buku ini masih kosong. Kosong karena sepertinya masih kamu yang harus menulisnya, walaupun saya terlalu takut memintanya. Kalau bisa, saya ingin membakar buku ini, menghilangkan buku ini, seperti saya menghilangkan mimpi-mimpi yang saya gantungkan ke kamu, tetapi semuanya gagal.
Really, walaupun dua tahun sudah berlalu, buku ini masih kosong. Saya belum pernah bisa mengizinkan orang lain mengisinya.
Really, sekarang saya sedang bertanya-tanya. Kenapa saya begitu berani, kenapa saya begitu tidak tahu malu menuliskan begini di dunia tidak nyata ini, kenapa saya harus repot-repot menuliskan pengarang dari buku cerita ini.

No comments:

Post a Comment