dari dulu, saya selalu kalah sama jarak. jarak. kenapa sih orang harus selalu putus asa sama jarak? kenapa karena jarak saya jadi ngga bisa memastikan kalo orang-orang yang berarti, yang saya sayangin, semuanya baik-baik aja? semua karena hal kancut ini.
segala yang udah direncanain jadi gagal karena jarak ini. padahal, kita masih bisa ngeliat bulan yang sama. padahal langit kita tuh masih sama. iya ngga? tapi kerasanya jauh banget..
sekarang saya nyesek lagi, ya karena si semprul ini lagi. saya mau UAN, ayah saya sekitar sebulan di Semarang dan ibu saya sudah pindah ke cirebon. bahkan ayah saya mau bilang bakalan ke padang. hmm.. rasanya tuh aneh ditinggal begini. segalanya ngga direncanain, jelas. dan tiba-tiba, waktu saya tidur, saya harus terima kalau kami akhirnya dipisahkan oleh jarak. saya rindu mereka. waktu saya ngukur, saya cuma kepisah 1,5 cm dari cirebon. dan hal kancut lain adalah skala. ada satu banding sekian yang semakin mengukuhkan kalau mereka beneran jauh. hal kancut ini jugalah yang akhirnya membawa saya kabur dari sesuatu yang tidak ingin saya lakukan. saya bakalan dipaksa mengucapkan suatu hal yang saya benci setengah mati : bye. sampai jumpa. ugh, where's the bin? kenapa sih Tuhan harus menciptakan jarak untuk menjauhkan orang-orang dari orang tua mereka, keluarga mereka, teman-teman mereka? kenapa saya harus kalah dari jarak yang ngebuat saya harus terima kenyataan bahwa saya jauh dari orang tua, keluarga, dan nantinya teman-teman saya. lalu, saya harus jauh dari dia. saya benci itu, ketika saya melihatnya, dan sadar bahwa saya tidak bisa disana. karena jarak sudah membentang makin lebar.
No comments:
Post a Comment